Prodi PPKn – FKIP – UMM Gaungkan Transformasi Pendidikan Multikultural di Era AI Lewat Seminar Internasional

Malang, 31 Juli 2025 – Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP-UMM) sukses menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk “Transforming Multicultural Education through Artificial Intelligence: Building Inclusive Societies in the Digital Era”. Kegiatan ini menghadirkan para pakar pendidikan dari berbagai negara, dengan tujuan mengeksplorasi transformasi pendidikan multikultural dan inklusif di era digital. Seminar ini menghadirkan keynote speaker terkemuka, Prof. Dr. Chun-Yen Chang, Chair Professor dari National Taiwan Normal University. Dalam paparannya berjudul “Reimagining Learning for All: Inclusive Education in the Digital Era with AISI”, Prof. Chang memaparkan hasil riset mendalam terkait dampak penggunaan alat bantu AI, seperti ChatGPT, dalam aktivitas menulis esai. Hasil riset menunjukkan bahwa meskipun AI dapat meningkatkan efisiensi, ketergantungan terhadapnya berisiko mengurangi aktivasi kognitif dan kemampuan berpikir mendalam mahasiswa, fenomena yang disebut sebagai cognitive debt. Lebih lanjut, Prof. Chang memperkenalkan platform AISI (AI Scaffolding for Inclusive Learning) yang dirancang untuk memberikan dukungan metakognitif berbasis AI dalam pembelajaran sains. Ia menekankan pentingnya integrasi AI secara bijak dan terstruktur dalam dunia pendidikan untuk mendorong keterlibatan, refleksi, dan argumentasi yang bermakna, khususnya dalam konteks isu sosial-saintifik seperti perubahan iklim. Sementara itu, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M. dari FKIP UMM menyampaikan makalah bertajuk “Transformation of Multicultural Education in the AI Era: Towards an Inclusive Digital Society”. Ia menyoroti bagaimana teknologi AI dapat menjadi alat revolusioner dalam pendidikan multikultural, mulai dari personalisasi pembelajaran lintas budaya, penerjemahan multibahasa yang kontekstual, hingga pengembangan kurikulum yang lebih adil dan responsif terhadap keberagaman. Prof. Trisakti juga mengingatkan tantangan serius yang harus dihadapi, seperti bias algoritmik, ketimpangan akses digital, dan resistensi budaya terhadap teknologi. Beliau menekankan perlunya kolaborasi lintas disiplin antara pendidik, pengembang teknologi, dan komunitas budaya untuk memastikan bahwa sistem AI mendukung nilai-nilai inklusif, adil, dan bermakna bagi semua peserta didik. Pada sesi paralel, Prof. Dr. Theodorus Pangalila, S.Fils., S.H., M.Pd., dari Universitas Negeri Manado menyampaikan materi “Multicultural Civic Education in a Fragmented Society.” Ia mengingatkan bahwa pendidikan kewarganegaraan di era sekarang perlu memperkuat nilai empati, solidaritas sosial, serta kemampuan berdialog dalam keberagaman. “Pendidikan kewarganegaraan harus mampu menjawab fragmentasi sosial dan membangun civic trust melalui pendekatan multikultural yang reflektif,” ujar Prof. Theo. Melalui seminar ini, Prodi PPKn – FKIP – UMM menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan yang progresif dan relevan dengan tantangan zaman. Seminar ini tidak hanya mempertemukan perspektif global, tetapi juga mendorong dialog kritis tentang bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan kebhinekaan. (*rfl)